Suara gemuruh dan letusan terdengar dari kejauhan....Dan terdengar himbauan untuk mengungsi dari speker masjid, dan kentonganpun bertaut tautan dari warga satu dengan lainnya. Mendadak orang-orang berbondong-bondng keluar rumah dan berlarian menuju posko-posko yang telah disiapkan tim siaga dan petugas langsung mendata warga yang berdatangan. Dari kejauhan terlihat tim Siga sedang menangani korban yang menderita luka, dan memberikan penanganan pertama. Setelah warga tertangani, tim siaga menginformasikan adanya korban dan butuh kendaraan pada posko utama untuk mengangkut korban dan pengungsi.
Petang itu sejenak nampak gunung Kelud sedang meletus dan warga melakukan pengungsian. Namun hal ini adalah simulasi yang sedang dilaksanakan di desa Pandansari - Ngantang. Simulasi yang diselenggarakan pada tanggal 31 Juli 2009 adalah hasil kerjasama Tim Siaga Jangkar Kelud Kabupaten Malang, UPN VY Jogjakarta, dan KAPPALA Indonesia. Tujuannya yaitu:
1. Meningkatkan kesiapsiagaan desa
2. Mengujicobakan Standar Operasional Prosedure kelembagaan bencana tingkat desa
3. Mengujicobakan dan sosialisasi sistim peringatan dini
4. Meningkatkan kemampuan tim siaga desa dalam penangan terhadap penderita gawat darurat
Dengan skenario malam hari dengan jenis ancaman hujan abu, sekitar 350 warga dari 6 dusun di Pandansari antusias mengikuti kegiatan ini. Berawal di titik kumpul pertama yaitu di balai dusun masing-masing, kemudian dengan menggunakan alat transportasi di luncurkan ke titik kumpul ke 2 di lapangan Selorejo dan diluncurkan ke titik kumpul terahir yaitu di balai desa Pandasari. Di balai desa ini warga mendapatkan pengarahan dari Lurah, Camat, Ketua Tim Siaga desa Pandansari dan diahiri dengan nonton bareng film keginungapian.
Hal serupa telah dilakukan dibeberapa desa lainnya di seputan Kelud. Diantaranya adalah Pondok Agung, Besowo, Candirejo, dan Ngantru. Sebelumnya skenario simulasi di 4 desa dilakukan di siang hari dan masing-masing wilayah mengujicobakan jenis ancaman yang berbeda, berdasarkan pengalaman letusan gunung Kelud sebelumnya. Harapannya kegiatan ini adalah langkah awal bagi warga masyarakat desa untuk siap siaga terhadap ancaman Gunung Kelud, sehingga pengurangan terhadap hilangnya nyawa serta harta benda dapat diminimalkan.
LU/05/2009
Wednesday, August 5, 2009
Thursday, July 16, 2009
Kudu Tandang,.....ning Ora Kudu Kondang

Kegiatan DRR (Disater Risk Reduction) dan DRA (Disaster Risk Analisis) di kawasan rawan bencana gunung Kelud yang notabene meliputi 3 Kabupaten "Blitar, Malang, Kediri" telah memasuki tahun ke-2. Di tahun pertama pengenalan DRR dan DRA telah diterapkan di 14 desa. Kegiatan ini tidak hanya menitik beratkan pada masyarakat, namun pada melibatkan peran penting dari para pemangku sebagai tampuk pemerintahan, baik di tingkat desa, daerah dan pusat.
Kegiatan peningkatan kapasitas masyarakat, pemerintah, guru, dan rakom telah dilakukan, kegiatan ini meliputi pelatihan PBBM "Penanggulanagan Bencana Berbasis Masyarakat", PPGD "Penanganan Penderita Gawat Darurat", PRA, dan pemetaan. Hingga pembentukan kelembagaan tingkat desa untuk penangan bencana. Tim siaga yang telah terbentuk di masing-masing desa dan telah mendapatkan pelatihan PBBM dan PPGD telah tersebar di 14 desa di 3 Kabupaten "Blitar, Malang, Kediri".
Di tahun ke dua ini kegiatan CBDRM masih berlangsung dan menyebar ke 15 desa yang lain. Tim fasilitator adalah tim Jangkar Kelud yang selama ini mengikuti sejumlah lokalatih, simulasi, gladian, dan seminar sebagai bekal tim fasilitator untuk getok tularkan kepada masyarakat yang lainnya. Kudu tandang...ning ora kudu kondang (Bertindak lebih baik dari pada hanya mendengung-dengungkan tapa ada bukti) adalah semboyan dan semangat masyarakat ini. Harapannya adalah kegiatan ini dapat bermanfaat bagi masyarakat dalam mengelola alam dan sekitarnya dengan cerdas, dalam artian mengelola dan mengambil sumber daya alam dengan mempertimbangkan risiko, ancaman dan dampak bagi lingkungan dan masyarakat seputar.
Dengan semangat "Rinengkuh Kelud Hangreksa Rahayu", rasa guyub, saling memiliki dan hidup aman bersama ancaman. Pengelolaan bencana di kawasan Kelud akan dilakukan oleh masyarakat untuk mengurangi risiko yang lebih besar jika bencana terjadi di wilayah rawan bencana Gunung Kelud ini.
Pemetaan Desa Sebagai Upaya PRB

Pemetaan adalah proses pengukuran, perhitungan dan penggambaran permukaan bumi dengan menggunakan cara atau metode tertentu sehingga didapatkan hasil berupa softcopy maupun hardcopy bentuk/ gambaran suatu wilayah. Pada dasarnya kegiatan ini adalah untuk memproyeksikan suatu wilayah dengan kondisi yang berdasarakan pada realitas fisiknya. Peta menggambarkan keadaan sumberdaya umum lingkungan desa, keadaan masyarakat secara rinci dari segi sosial, ekonomi, dll.
Dalam perspektif penanggulangan bencana, pemetaan desa secara umum bertujuan memfasilitasi masyarakat untuk secara bersama memperhatikan kembali sumber daya dan ancaman yang ada, serta menilai kembali kapasitas dan kerentanan desa. Untuk itu dalam pengaplikasian DRR dan DRA di Kelud, pemetaan ini menjadi agenda penting Jangkar Kelud.
Pemetaan ini bertujuan untuk:
1. Menambah pemahaman tentang pembuatan peta risiko bencana
2. Menambah pemahaman tentang pemetaan secara digitasi
3. Membangun tim pemetaan di tingkat desa
Dengan adanya pemahan ini, peserta diharapkan mampu membuat serta memahami komponen-komponen yang harus ada dalam peta risiko bencana. Sehingga hasil dari pemetaan ini akan menjadi sumber informasi bagi warga masyarakat setempat mengenai jenis ancaman, kapasitas kerentanan, serta segala aspek kehidupan masyarakat setempat. Dengan demikian masyarakat bisa lebih memahami potensi wilayahnya yang berdekatan dengan wilayah rawan. Lebih dari itu dapat melakukan tindakan yang perlu untuk mengurangi terjadinya risiko bencana.
Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari "Lokakarya Pemetaan" yang dilaksanakan pada 26 - 27 April 2009 di Hotel Patria. Kegiatan ini dihadiri oleh 2 orang perwakilan dari 15 desa di 3 Kabupaten "Malang, Blitar, Kediri". Dengan bekerjasama dengan DREAM UPNV Jogjakarta, KAPPALA, Jangkar Kelud, TroCaire, dan Oxfam GB, kegiatan ini menitik beratkan pada materi pengenalan bentuk, jenis, serta komponen-komponen peta,dan yang lebih penting pengetahuan tentang penggunaan alat untuk diggitasi suatu wilayah yaitu GPS "Geo Psositioning System". Sistim untuk menandai suatu letak wilayah.
Dari lokalatih pemetaan ini dihasilkan kesepakatan untuk melakukan pemetaan di masing-masing desa di 3 Kabupaten. Penentuan jadwal, lokasi pemetaan serta pembuatan peta wilayah menjadi agenda kegiatan lanjutan dari Jangkar Kelud ke depan.
Tuesday, June 16, 2009
Simposium Bali
Kegiatan Simposium CBDRM Sanur Bali
Empat perwakilan dari lereng Kelud, P. Rosid dari Sempu Ngancar Kediri, Bu Lisna dari Besowo Kepung Kediri, Bu Winarsih dari Pandansari Ngantang Malang dan mBak Lisa dari Candirejo Ponggok Blitar, pada tanggal 18 Agustus 2008 bertolak menuju Hotel Sanur Pulau Dewata Bali bersama tiga rekan dari Pasag Merapi untuk mengikuti Simposium ke 4 tentang Pengurangan risiko bencana berbasis Masyarakat, pada tanggal 19-21 Agustus 2008 yang diselenggarakan oleh MPBI.
Selama tiga hari 4 wakil dari jangkar kelud dan 3 wakil dari pasag merapi berbaur dengan 300-an peserta lain yang berasal dari komunitas-komunitas lain diseluruh nusantara dan juga lembaga-lembaga baik dalam maupun luar negeri untuk berbagai pengalaman kaitannya dengan pengalaman-pengalaman yang baik dalam pengurangan risiko bencana berbasis masyarakat.
Berbagi cerita tidak hanya pada acara namun diluar acarapun masih terus berlanjut. Foto bareng dan belanja dijadikan agenda penutup selama tiga hari dipulau dewata.
Empat perwakilan dari lereng Kelud, P. Rosid dari Sempu Ngancar Kediri, Bu Lisna dari Besowo Kepung Kediri, Bu Winarsih dari Pandansari Ngantang Malang dan mBak Lisa dari Candirejo Ponggok Blitar, pada tanggal 18 Agustus 2008 bertolak menuju Hotel Sanur Pulau Dewata Bali bersama tiga rekan dari Pasag Merapi untuk mengikuti Simposium ke 4 tentang Pengurangan risiko bencana berbasis Masyarakat, pada tanggal 19-21 Agustus 2008 yang diselenggarakan oleh MPBI.
Selama tiga hari 4 wakil dari jangkar kelud dan 3 wakil dari pasag merapi berbaur dengan 300-an peserta lain yang berasal dari komunitas-komunitas lain diseluruh nusantara dan juga lembaga-lembaga baik dalam maupun luar negeri untuk berbagai pengalaman kaitannya dengan pengalaman-pengalaman yang baik dalam pengurangan risiko bencana berbasis masyarakat.
Berbagi cerita tidak hanya pada acara namun diluar acarapun masih terus berlanjut. Foto bareng dan belanja dijadikan agenda penutup selama tiga hari dipulau dewata.
Sunday, April 19, 2009
Workshop Manajemen Kedaruratan
Bukan Mencari siapa yang salah dan saling menyalahkan, namun mencari letak kesalahannya, untuk diperbaiki bersama.
Sebanyak 70 peserta dari berbagai Dinas, ormas, Radio Komunitas dan tokoh masyarakat di 3 kabupaten seputaran kelud (Malang, Kediri, dan Blitar) mengikuti workshop Manajemen Kedaruratan (Emergency Management)
yang diselenggarakan oleh Perkumpulan Kappala Indonesia program Kelud, pada tanggal 30 Juli – 1 Agustus 2008 di Hotel Patria Blitar. Acara yang dibuka oleh Kepala Bappeda Blitar (Bpk Dahlan) ini bertujuan :
• untuk menambah pemahaman tentang menejemen tanggap darurat
• mengenalkan kode etik pekerja kemanusiaan
• memperkenalkan standart minimun respon bencana
Pengalaman dari krisis Kelud 2007, respon yang diberikan, semua bertujuan untuk menyelamatkan aset kehidupan, meski lebih terfokus pada penyelamatan jiwa semata, hendaknya menjadi pembelajaran bahwa sebenarnya respon terhadap bencana tidak hanya menyelamatkan jiwa manusia, namun juga aset kehidupan lainnya. Berkaca respon saat kritis Kelud tahun 2007, masih banyak dijumpai permasalahan, bagaimana keluhan pengungsi, bagaimana ketidak sesuaian bantuan, bagaimana kesalahpahaman, bagaimana buruknya koordinasi, bagaimana menghadapi pengungsi, dan sederet masalah lainnya hendaknya menjadi cermin, untuk diperbaiki dikemudian hari hal itulah yang melatar belakangi kegiatan ini dilaksanakan.
Dari kegiatan ini diharapkan peserta mendapatkan tambahan pemahaman tentang menejemen tanggap darurat, mengetahui bahwa ada kode etik bagi pekerja kemanusiaan dalam melakukan kegiatan serta adanya pemahaman bahwa dalam merespon suatu bencana ada standart yang harus dipenuhi, terutama pemenuhan 5 kebutuhan dasar.
Kegiatan yang berlangsung selama 3 hari ini sangat antusias diikuti oleh para peserta hal ini terlihat dengan semangatnya peserta pada sesi-sesi diskusi.
Sebanyak 70 peserta dari berbagai Dinas, ormas, Radio Komunitas dan tokoh masyarakat di 3 kabupaten seputaran kelud (Malang, Kediri, dan Blitar) mengikuti workshop Manajemen Kedaruratan (Emergency Management)
yang diselenggarakan oleh Perkumpulan Kappala Indonesia program Kelud, pada tanggal 30 Juli – 1 Agustus 2008 di Hotel Patria Blitar. Acara yang dibuka oleh Kepala Bappeda Blitar (Bpk Dahlan) ini bertujuan :
• untuk menambah pemahaman tentang menejemen tanggap darurat
• mengenalkan kode etik pekerja kemanusiaan
• memperkenalkan standart minimun respon bencana
Pengalaman dari krisis Kelud 2007, respon yang diberikan, semua bertujuan untuk menyelamatkan aset kehidupan, meski lebih terfokus pada penyelamatan jiwa semata, hendaknya menjadi pembelajaran bahwa sebenarnya respon terhadap bencana tidak hanya menyelamatkan jiwa manusia, namun juga aset kehidupan lainnya. Berkaca respon saat kritis Kelud tahun 2007, masih banyak dijumpai permasalahan, bagaimana keluhan pengungsi, bagaimana ketidak sesuaian bantuan, bagaimana kesalahpahaman, bagaimana buruknya koordinasi, bagaimana menghadapi pengungsi, dan sederet masalah lainnya hendaknya menjadi cermin, untuk diperbaiki dikemudian hari hal itulah yang melatar belakangi kegiatan ini dilaksanakan.
Dari kegiatan ini diharapkan peserta mendapatkan tambahan pemahaman tentang menejemen tanggap darurat, mengetahui bahwa ada kode etik bagi pekerja kemanusiaan dalam melakukan kegiatan serta adanya pemahaman bahwa dalam merespon suatu bencana ada standart yang harus dipenuhi, terutama pemenuhan 5 kebutuhan dasar.
Kegiatan yang berlangsung selama 3 hari ini sangat antusias diikuti oleh para peserta hal ini terlihat dengan semangatnya peserta pada sesi-sesi diskusi.
Subscribe to:
Posts (Atom)