Sunday, November 29, 2009

Reboissasi

Bencana sering kali terjadi karena ketidak seimbangan alam dan sumberdaya alam yang ada di bumi ini. Ketidak seimbangan ini dipacu oleh perubahan musim yang tidak menentu, pembangunan wilayah yang kurang pas, pengelolaan hutan yang berlebihan sehingga menjadikan pemicu terjadinya bencana yang lebih besar.

Kegiatan reboisasi Karangrejo Kabupaten Blitar adalah satu upaya masyarakat untuk mengantisipasi adanya bencana. Penanaman 1000 pohon ini dilakukan pada tanggal 29 Nopenber yang lokasi penanamannya dilakukan di dusun Petung Ombo, sebuah wilayah hutan yang berada di kaki Gunung Kelud. Bersama Jangkar Kelud masyarakat Karangrejo melakukan reboisasi dan perbaikan tanggul di wilayah Petung Ombo. Kegiatan yang dimulai pukul 09.00 - selesai, diahiri dengan kegiatan anjangsana ke rumah anggota Jangkar Kelud yang berada di seputaran desa ini.

Semoga kegiatan ini bermanfaat bagi lingkungan setempat dan tentunya untuk penigkatan sumberdaya alam yang madani di wilayah Gunung Kelud.

Friday, November 6, 2009

Mubes KAPPALA Indonesia

Regenerasi dan refresh dalam sebuah organisasi sangat dibutuhkan. Mengingat pentingnya menjadikan sebuah organisasi ini dinamis berdasarkan peran dan fungsinya di dalam masyarakat. Untuk itu Perkumpulan Kappala Indonesia mengadakan pertemuan Musyawarah Besar bersama anggotanya yang berada diberbagai kawasan yang tersebar di pulau Jawa. Kawasan ini terbagi dalam beberapa region. Region Jawa Timur diwakili dari Banyuwangi, Jember, Trenggalek dan Kediri "Jangkar Kelud". Region Jawa Tengah diwakili dari Purwokerto "KOMPLIT", Jogja "PASAG Merapi, Komunitas Gunung Kidul, Menoreh".

Acara 3 tahunan ini bertujuan untuk mejaga dinamika perkumpulan serta regenerasi peran dalam perkumpulan Kappala. Dimulai tanggal 31 Oktober - 2 November dengan metode diskusi dan curah pendapat. Pada hari pertama, diawali dengan laporan pertanggung jawaban pengurus lama, dilanjutkan dengan evaluasi atas kegiatan yang dilakukan selama 3 tahun terahir. Pembahasan dan perubahan dalam AD-ART dilakukan disesi awal hari kedua, diskusi kelompok, dan sharing perkembangan kegiatan serta rencana lanjutan di wilayah masing - masing.

Restrukturisasi menjadi agenda ahir dari pertemuan besar ini. Diskusi panjang dan curah pendapat menjadikan dinamika pertemuan menjadi semakin unik dan menarik. Munculnya beberapa nama baru dan lama, gender, fungsi serta peran dalam organisasi dan komunitas menjadi pertimbangan penting dalam memutuskan pemangku peran direktur Perkumpulan Kappala Indonesia. Hingga secara resmi terpilihnya Sutris sebagai direktur Perkumpulan Kappala Indonesia periode 2009 - 2011.

Selamat dan sukses atas Terpilihnya Bapak Sutris, mudah mudahan bersamamu komunitas menjadi solit dan perkumpulan bisa berperan aktif sebagai kualiti kontrol terhadap dinamika perubahan Indonesia yang lebih baik. Walaupun dalam pidato pembukanya beliau dengan jelas menyatakan "Innalillahi Wainnalillahi Rojiun".
Chai Yo.....kang....!!!!

Wednesday, October 28, 2009

Yuk Kita Lihat Lagi Apa Itu PBBM

Di suatu sore di pojok pertemuan tim siaga bercerita tentang keinginannya seorang guru untuk mengadakan simulasi. Keinginan ini di dorong oleh rasa kekawatiran terhadap ancaman yang sewaktu-waktu bisa terjadi di lingkungannya.

A: Cak aku pengen ngewenekne simulasi neng desoku
B: walah....koe ngerti kareppe simulasi kui opo toh?
A: yo uji cubo ben siap yen onong bencana
B: wes ngerti urung bab sopo ngelakoni opo?
A: yo....gur nyiapke kebutuhan lan ngumpulke masyarakat wae kok ra isa!
B: yo ora bisa ngunu....mengko sopo seng duwe tugas ngunekke tanda yen ono beboyo, sapa seng due tanggung jawab ngurusi pendataan, nyiapke transportasi, ngurusi cah cah seng mbutuhke penanganan darurat, lan lian liane, ise akeh seng kudu di lampai...
A: Walah cak....ono beboyo kok kelingan ngurusi wong seng cedera....yo selak mati pisan!!!?
B: la yo....wong iki, yen koyo ngunu, yo podo wae respon sifate, ora siap siogo lan waspodo rek.....??!!

Terkadang perlakuan dan pemahaman yang tidak memadai bisa menyebabkan kesalahan dalam memperlakukan bencana. Kekwawatiran dan kepanikan dalam situasi bencana sering terjadi, sehingga menyebabkan terjadi banyaknya korban. Bisakah hal ini diminimalkan? Di berbagai wilayah pembicaraan ini dan pengaplikasian pengurangan risiko bencana dilakukan, dan salah satunya adalam Pengirangan Risiko Bencana Berbasis Masyarakat. Kegiatan ini mengutamakan penguatan kapasitas di suatu wilayah berkenaan dengan analisa wilayah mereka masing - masing. Hal ini meliputi 5 aspek kehidupan, yaitu manusia, sosial, ekonomi, plolitik dan lingkungan. Ada beberapa hal yang harus digaris bawahi dalam memperlakukan bencana yang berbasis masyarakat, yaitu:

1. Merubah Paradigma
Masyarakat telah paham bahwa kita hidup di seputar wilayah yang rawan, untuk itu mari kita rubah penanganannya dari respon menjadi kesiapsiagaa. Dalam artian kegiatan ini akan menjadi kegiatan yang berkesinambungan. Karena sifatnya luas, maka tidak bisa dilakukan sendiri, maka kebersamaan dari semua pihak sangat penting (mayarakat, pemerintah, pihak luar, media)

2. Analisa Ancaman/ Disaster Risk Analysis (DRA)

Hal ini menjadi penting karena kita tidak akan paham apa yang telah terjadi dan sebesar apa kejadian itu bisa menimpa kita serta luasan yang terdampak akan adanya ancaman ini. Tidak semua ancaman bisa mengakibatkan bencana. Pemahaman atas risiko bisa membuat kita lebih waspada dan siaga. Dalam hal ini penting kita menganalisa jenis dan karakter ancaman, jika kita bisa mengenali kedua hal tersebut, maka kita juga akan bisa mengenali kelemahan dan kapasitas apa yang masih melingkupi wilayah kita yang berhubungan dengan 5 aspek kehidupan “manusia, ekonomi, social, politik, lingkungan”.

3. Pemetaan/ Risk Map

Tujuan dari pemetaan ini yaitu untuk mengetahui luasan dan besarnya dampak ancaman yang berpengaruh pada suatu wilayah. Hal ini berkenaan dengan segala informasi yang berhubungan dari wilayah tersebut yang meliputi data penduduk, letak dari bidang tanah dan infrastruktur (sesuai dengan keadaan sebenarnya), kelompok rentan (ibu hamil, balita, orang tua dan diffable) letak ancaman (sungai/ gunung/ wilayah hutan, dll).

4. Sistim Peringatan Dini/ Early Warning Systim (EWS)

Peringatan dini adalah suatu alat yang memberikan informasi/ tanda akan adanya bahaya dan becana. Tidak harus teknologi tinggi, namun alat ini akan dimengerti masyarkat setempat sebagai penanda adanya bencana. Masyarakat kita masih menggunakan alat yang disebut “Kentongan” untuk menginformasikan banyak hal, seperti kematian, perampokan, pembunuhan, dll”, untuk itu penting adanya pembeda dalam pemukulan kentongan ini dan disepakati oleh semua warga (laki-laki/ perempuan). Sehingga informasi ini berfungsi secara maksimal.

5. Standar Operasional Procedure (SOP)

SOP akan membicarakan tentang orang/ SDM yang akan mengemban tugas dalam managemen bencana tingkat desa/ dusun, dan kapan tugas itu dilaksanakan (sebelum, saat, sesusdah). Hal ini bisa menjadi kegiatan RAK (Rencana Aksi Kampung) di setiap wilayah masing – masing dan dijadikan pedoman dalam pelaksanaan simulasi.

6. Penangan Penderita Gawat Darurat


Penanganan Penderita Gawat Darurat (PPGD) adalah kegiatan penanganan penderita gawat darurat yang sering terjadi setiap waktu. Kegiatan ini akan memberikan penguatan kapasitas pada warga/ Tim Siaga Desa tentang pengetahuan penanganan luka, patah tulang, pembalutan serta transportasi penderita gawat darurat. Sehingga pengurangan risiko dan menghindari terjadinya korban lebih besar bisa diminimalkan.


7. Pelembagaan Penanganan Bencana

Pelembagaan mempunyai peranan khusus dalam suatu wilayah yang berisiko. Hal ini dapat diartikan bahwa lembaga ini adalah pelaksana dalam penangan bencana di suatu wilayah. Dalam hal ini masyarakat yang terdampak akan berperan utama, karena masyarakat menjadi penerima langsung dampak dari bencana itu sendiri. Maka dari itu pembentukan tim penanganan bencana desa penting adanya. Tim ini bertugas khusus dan dibekali oleh pengetahuan DRA, pemetaan, dan Penanganan Penderita Gawat Darurat (PPGD).

8. Simulasi/ Gladi Lapang

Kegiatan simulasi dilakukan sebagai alat untuk mengujicoba SOP, mensosialisasikan sistim peringatan dini, managemen barak, serta PPGD. Melibatkan semua masyarakat dan khususnya tim penanggulangan tingkat desa yang telah dibuat sebelumnya. Dari hasil ujicoba ini nantinya akan ada evaluasi, sehingga perumusan dan perencanaan penanganan yang lebih baik di desa masing - masing akan terwujud.


“Mari kita hidup aman dan nyaman dengan ancaman”

Sunday, October 18, 2009

Riyayan Tim Siaga Jangkar Kelud

Pagi ini 18 Oktober 2009 Tim Siga Jangkar Kelud mengadakan pertemuan antar tim siaga dari 3 Kabupaten. Kegiatan yang dilakukan di Desa Pandansari, kecamatan Ngantang, kabupaten Malang dihadiri oleh 300 peserta, perwakilan dari 16 desa yang telah mendapat serangkaian pelatihan PB (Penanggulangan Bencana) dan PRB (Pengurangan Risiko Bencana).

Kegiatan tahunan ini diadakan sebagai ajang berkumpul/ bertemunya tim siaga antar kabupaten untuk mempererat kebersamaan dan meningkatkan koordinasi antar tim di 3 kabupaten. Namun tak kalah pentingnya yaitu Gladi PPGD yang dilombakan untuk masing-masing Tim. Tujuan dari gladi ini yaitu untuk mengasah kesiapsiagaan Tim Siaga Desa dalam penanganan penderita gawat darurat. Hiburan dan pembagian door prize merupakan acara puncak dalam acara Temu Tim Siaga ini. Hadiah diberikan kepada Tim Siaga yang tercepat dan benar dalam melakukan penanganan terhadap penderita gawat darurat.

Harapan ke depan, Tim Siaga Desa di 3 kabupaten ini bisa lebih sigap dan tanggap dalam melakukan penanganan bencana yang lebih baik, mendorongkan pola penanganan bencana berbasis masyarakat serta penanganan bencana yang berkesinambungan kepada pemerintah setempat. Dengan adanya peran dari semua pihak, menjadikan "Rinengkuh Kelud Hangreksa Rahayu" akan terwujud bagi kesinambungan dan keselarasan kehidupan di seputaran Kelud.

Sunday, October 11, 2009

Konferensi PRBBK


Konferensi PRBBK (Pengurangan Risiko Bencana Berbasis Komunitas) yang diadakan pada tanggal 5 - 8 Oktober 2009 merupakan suatu kegiatan tahunan yang dilakukan oleh lembaga-lembaga yang konsentrasi dalam penanganan bencana di Indonesia. Sebelumnya kegiatan ini dilaksanakan di Bali, namun untuk kali ini pelaksanaannya di Hotel Sahid Jaya Makasar. Dalam konferensi ini semua lembaga baik Nasional ataupun Internasional berkumpul untuk mendokumentasikan dan merumuskan kegiatan pengurangan risiko bencana yang telah dilakukan diwilayahnya masing-masing. Adapun perumusan tentang strategy PRBBK, yaitu:

1. Subyek (Suprastruktur, Infrastruktur)
2. Obyek (Risiko Bencana dan Perubahan Iklim
3. Metode (pendidikan, pemberdayaan, Regulasi, Fasilitasi, Sosialisasi, Komunikasi, Advokasi/ Pendampingan)
4. Ketersediaan sarana dan prasarana/ alokasi dana yang memadai.
5. Sasaran yang ditangani merupakan hal luar biasa yang ditangani dengan cara luar biasa.


Tim gabungan dari Jangkar Kelud dan Pasag Merapi mengirimkan masing-masing 5 perwakilan. Bertemu, berbagi pengalaman, membuat pameran sebagian hasil dari kegiatan PRB yang dilakukan di Kelud dan Merapi menjadi agenda selama 4 hari di konfrensi ini. Belanja dan jalan-jalan tak luput incaran para peserta, pantai Losari dan Studio Trans menjadi incaran menarik tuk melepaskan penat dan menikmati keindahan kota Makasar paska konferensi.

Sukses selalu PRB yang dilakuan teman-teman ini di wilayah masing-masing menjadi panjat doa yang dalam dan komitmen memperlakukan bencana secara berbeda. Perubahan respon menjadi kesiapsiagaan/ dilakukan disemua siklus, bertumpu pada masyarakat, intensif dan berkelanjutan serta alokasi dana yang memadai untuk kegiatan kebencanaan merupakan rencana mitigasi yang harus dilakukan oleh semua pihak.

Wednesday, August 5, 2009

Simulasi Tanggap Darurat

Suara gemuruh dan letusan terdengar dari kejauhan....Dan terdengar himbauan untuk mengungsi dari speker masjid, dan kentonganpun bertaut tautan dari warga satu dengan lainnya. Mendadak orang-orang berbondong-bondng keluar rumah dan berlarian menuju posko-posko yang telah disiapkan tim siaga dan petugas langsung mendata warga yang berdatangan. Dari kejauhan terlihat tim Siga sedang menangani korban yang menderita luka, dan memberikan penanganan pertama. Setelah warga tertangani, tim siaga menginformasikan adanya korban dan butuh kendaraan pada posko utama untuk mengangkut korban dan pengungsi.

Petang itu sejenak nampak gunung Kelud sedang meletus dan warga melakukan pengungsian. Namun hal ini adalah simulasi yang sedang dilaksanakan di desa Pandansari - Ngantang. Simulasi yang diselenggarakan pada tanggal 31 Juli 2009 adalah hasil kerjasama Tim Siaga Jangkar Kelud Kabupaten Malang, UPN VY Jogjakarta, dan KAPPALA Indonesia. Tujuannya yaitu:
1. Meningkatkan kesiapsiagaan desa
2. Mengujicobakan Standar Operasional Prosedure kelembagaan bencana tingkat desa
3. Mengujicobakan dan sosialisasi sistim peringatan dini
4. Meningkatkan kemampuan tim siaga desa dalam penangan terhadap penderita gawat darurat

Dengan skenario malam hari dengan jenis ancaman hujan abu, sekitar 350 warga dari 6 dusun di Pandansari antusias mengikuti kegiatan ini. Berawal di titik kumpul pertama yaitu di balai dusun masing-masing, kemudian dengan menggunakan alat transportasi di luncurkan ke titik kumpul ke 2 di lapangan Selorejo dan diluncurkan ke titik kumpul terahir yaitu di balai desa Pandasari. Di balai desa ini warga mendapatkan pengarahan dari Lurah, Camat, Ketua Tim Siaga desa Pandansari dan diahiri dengan nonton bareng film keginungapian.

Hal serupa telah dilakukan dibeberapa desa lainnya di seputan Kelud. Diantaranya adalah Pondok Agung, Besowo, Candirejo, dan Ngantru. Sebelumnya skenario simulasi di 4 desa dilakukan di siang hari dan masing-masing wilayah mengujicobakan jenis ancaman yang berbeda, berdasarkan pengalaman letusan gunung Kelud sebelumnya. Harapannya kegiatan ini adalah langkah awal bagi warga masyarakat desa untuk siap siaga terhadap ancaman Gunung Kelud, sehingga pengurangan terhadap hilangnya nyawa serta harta benda dapat diminimalkan.


LU/05/2009

Thursday, July 16, 2009

Kudu Tandang,.....ning Ora Kudu Kondang


Kegiatan DRR (Disater Risk Reduction) dan DRA (Disaster Risk Analisis) di kawasan rawan bencana gunung Kelud yang notabene meliputi 3 Kabupaten "Blitar, Malang, Kediri" telah memasuki tahun ke-2. Di tahun pertama pengenalan DRR dan DRA telah diterapkan di 14 desa. Kegiatan ini tidak hanya menitik beratkan pada masyarakat, namun pada melibatkan peran penting dari para pemangku sebagai tampuk pemerintahan, baik di tingkat desa, daerah dan pusat.

Kegiatan peningkatan kapasitas masyarakat, pemerintah, guru, dan rakom telah dilakukan, kegiatan ini meliputi pelatihan PBBM "Penanggulanagan Bencana Berbasis Masyarakat", PPGD "Penanganan Penderita Gawat Darurat", PRA, dan pemetaan. Hingga pembentukan kelembagaan tingkat desa untuk penangan bencana. Tim siaga yang telah terbentuk di masing-masing desa dan telah mendapatkan pelatihan PBBM dan PPGD telah tersebar di 14 desa di 3 Kabupaten "Blitar, Malang, Kediri".

Di tahun ke dua ini kegiatan CBDRM masih berlangsung dan menyebar ke 15 desa yang lain. Tim fasilitator adalah tim Jangkar Kelud yang selama ini mengikuti sejumlah lokalatih, simulasi, gladian, dan seminar sebagai bekal tim fasilitator untuk getok tularkan kepada masyarakat yang lainnya. Kudu tandang...ning ora kudu kondang (Bertindak lebih baik dari pada hanya mendengung-dengungkan tapa ada bukti) adalah semboyan dan semangat masyarakat ini. Harapannya adalah kegiatan ini dapat bermanfaat bagi masyarakat dalam mengelola alam dan sekitarnya dengan cerdas, dalam artian mengelola dan mengambil sumber daya alam dengan mempertimbangkan risiko, ancaman dan dampak bagi lingkungan dan masyarakat seputar.

Dengan semangat "Rinengkuh Kelud Hangreksa Rahayu", rasa guyub, saling memiliki dan hidup aman bersama ancaman. Pengelolaan bencana di kawasan Kelud akan dilakukan oleh masyarakat untuk mengurangi risiko yang lebih besar jika bencana terjadi di wilayah rawan bencana Gunung Kelud ini.

Pemetaan Desa Sebagai Upaya PRB


Pemetaan adalah proses pengukuran, perhitungan dan penggambaran permukaan bumi dengan menggunakan cara atau metode tertentu sehingga didapatkan hasil berupa softcopy maupun hardcopy bentuk/ gambaran suatu wilayah. Pada dasarnya kegiatan ini adalah untuk memproyeksikan suatu wilayah dengan kondisi yang berdasarakan pada realitas fisiknya. Peta menggambarkan keadaan sumberdaya umum lingkungan desa, keadaan masyarakat secara rinci dari segi sosial, ekonomi, dll.

Dalam perspektif penanggulangan bencana, pemetaan desa secara umum bertujuan memfasilitasi masyarakat untuk secara bersama memperhatikan kembali sumber daya dan ancaman yang ada, serta menilai kembali kapasitas dan kerentanan desa. Untuk itu dalam pengaplikasian DRR dan DRA di Kelud, pemetaan ini menjadi agenda penting Jangkar Kelud.

Pemetaan ini bertujuan untuk:
1. Menambah pemahaman tentang pembuatan peta risiko bencana
2. Menambah pemahaman tentang pemetaan secara digitasi
3. Membangun tim pemetaan di tingkat desa

Dengan adanya pemahan ini, peserta diharapkan mampu membuat serta memahami komponen-komponen yang harus ada dalam peta risiko bencana. Sehingga hasil dari pemetaan ini akan menjadi sumber informasi bagi warga masyarakat setempat mengenai jenis ancaman, kapasitas kerentanan, serta segala aspek kehidupan masyarakat setempat. Dengan demikian masyarakat bisa lebih memahami potensi wilayahnya yang berdekatan dengan wilayah rawan. Lebih dari itu dapat melakukan tindakan yang perlu untuk mengurangi terjadinya risiko bencana.

Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari "Lokakarya Pemetaan" yang dilaksanakan pada 26 - 27 April 2009 di Hotel Patria. Kegiatan ini dihadiri oleh 2 orang perwakilan dari 15 desa di 3 Kabupaten "Malang, Blitar, Kediri". Dengan bekerjasama dengan DREAM UPNV Jogjakarta, KAPPALA, Jangkar Kelud, TroCaire, dan Oxfam GB, kegiatan ini menitik beratkan pada materi pengenalan bentuk, jenis, serta komponen-komponen peta,dan yang lebih penting pengetahuan tentang penggunaan alat untuk diggitasi suatu wilayah yaitu GPS "Geo Psositioning System". Sistim untuk menandai suatu letak wilayah.

Dari lokalatih pemetaan ini dihasilkan kesepakatan untuk melakukan pemetaan di masing-masing desa di 3 Kabupaten. Penentuan jadwal, lokasi pemetaan serta pembuatan peta wilayah menjadi agenda kegiatan lanjutan dari Jangkar Kelud ke depan.

Tuesday, June 16, 2009

Simposium Bali

Kegiatan Simposium CBDRM Sanur Bali

Empat perwakilan dari lereng Kelud, P. Rosid dari Sempu Ngancar Kediri, Bu Lisna dari Besowo Kepung Kediri, Bu Winarsih dari Pandansari Ngantang Malang dan mBak Lisa dari Candirejo Ponggok Blitar, pada tanggal 18 Agustus 2008 bertolak menuju Hotel Sanur Pulau Dewata Bali bersama tiga rekan dari Pasag Merapi untuk mengikuti Simposium ke 4 tentang Pengurangan risiko bencana berbasis Masyarakat, pada tanggal 19-21 Agustus 2008 yang diselenggarakan oleh MPBI.

Selama tiga hari 4 wakil dari jangkar kelud dan 3 wakil dari pasag merapi berbaur dengan 300-an peserta lain yang berasal dari komunitas-komunitas lain diseluruh nusantara dan juga lembaga-lembaga baik dalam maupun luar negeri untuk berbagai pengalaman kaitannya dengan pengalaman-pengalaman yang baik dalam pengurangan risiko bencana berbasis masyarakat.

Berbagi cerita tidak hanya pada acara namun diluar acarapun masih terus berlanjut. Foto bareng dan belanja dijadikan agenda penutup selama tiga hari dipulau dewata.

Sunday, April 19, 2009

Workshop Manajemen Kedaruratan

Bukan Mencari siapa yang salah dan saling menyalahkan, namun mencari letak kesalahannya, untuk diperbaiki bersama.

Sebanyak 70 peserta dari berbagai Dinas, ormas, Radio Komunitas dan tokoh masyarakat di 3 kabupaten seputaran kelud (Malang, Kediri, dan Blitar) mengikuti workshop Manajemen Kedaruratan (Emergency Management)
yang diselenggarakan oleh Perkumpulan Kappala Indonesia program Kelud, pada tanggal 30 Juli – 1 Agustus 2008 di Hotel Patria Blitar. Acara yang dibuka oleh Kepala Bappeda Blitar (Bpk Dahlan) ini bertujuan :
• untuk menambah pemahaman tentang menejemen tanggap darurat
• mengenalkan kode etik pekerja kemanusiaan
• memperkenalkan standart minimun respon bencana

Pengalaman dari krisis Kelud 2007, respon yang diberikan, semua bertujuan untuk menyelamatkan aset kehidupan, meski lebih terfokus pada penyelamatan jiwa semata, hendaknya menjadi pembelajaran bahwa sebenarnya respon terhadap bencana tidak hanya menyelamatkan jiwa manusia, namun juga aset kehidupan lainnya. Berkaca respon saat kritis Kelud tahun 2007, masih banyak dijumpai permasalahan, bagaimana keluhan pengungsi, bagaimana ketidak sesuaian bantuan, bagaimana kesalahpahaman, bagaimana buruknya koordinasi, bagaimana menghadapi pengungsi, dan sederet masalah lainnya hendaknya menjadi cermin, untuk diperbaiki dikemudian hari hal itulah yang melatar belakangi kegiatan ini dilaksanakan.

Dari kegiatan ini diharapkan peserta mendapatkan tambahan pemahaman tentang menejemen tanggap darurat, mengetahui bahwa ada kode etik bagi pekerja kemanusiaan dalam melakukan kegiatan serta adanya pemahaman bahwa dalam merespon suatu bencana ada standart yang harus dipenuhi, terutama pemenuhan 5 kebutuhan dasar.
Kegiatan yang berlangsung selama 3 hari ini sangat antusias diikuti oleh para peserta hal ini terlihat dengan semangatnya peserta pada sesi-sesi diskusi.